September 26, 2008
September 25, 2008
introduction to Ms. Blame it all to world

Mari saya perkenalkan dengan Ms. Blame it all to world
Dia memang sudah tidak muda lagi, walupun tidak muda dia masih dipanggil nona. Dan even usianya dikategorikan dewasa, tapi secara mental dan jalan pikirannya bisa dibilang kategori kekanak-kanakan. Lucunya setiap tidak diberikan tanggung jawab sang nona sering marah, tapi
Gue ngedumel sama kelakuan dia!? Iya! Gue jengkel, bukan apa-apa, perdebatan ini gak cuman gue doank yang ngalamin, hamper seluruh karyawan bermasalah dengan dia, mulai yang ringan sampe berat. Yang bikin jengkel adalah bagaimana orang lain kecuali gue mneyikapi hal ini. Begini rangkuman analisa mereka (yang diberkan oleh si nona):
1. maklum dia berusia namun belum berpasangan
2. dia pernah punya trauma dengan pasangannya
3. adik-adiknya lebih sukses dari dia
4. orang lain seangkatan dia lebih sukses dari dia
5. dia „bawaan“ dewan direksi
6. dewan direksi temen maen golf kakaknya
7. dia lebih senior
8. dia di guna-guna
9. dia emang aneh
10. dia punya penyakit jantung
11. ..dan setiap kalimat diatas selalau diakhir dengan kalimat “...jadi harap maklum“
Gue inget salah satu mata kuliah, psiikologi kepribadian, di dalam kuliah itu pernah dijelaskan tentang bagai mana manusia itu dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan dalam hidup mereka, dari yang paling dasar kayak makan, sampe yang ribet kayak keuasaan dan sebagainya. Ketika kebutuhan itu tidak dipenuhi manusia terkadang “bertingkah” mulai yang ukurannya normal seperti berdefence mechanism, hingga yang ekstrim atau akut seperti neurotic. Okay, gue gak bakal jelasin satu-satu teori itu, berhubung nilai gue juga gak bagus2 amat. Tapi begini sih cara mudahnya (atau bisa disebut cara-suka-suka gue mengartikan teori) ketika salah satu kebutuhan manusia tidak dipenuhi manusia jadi neurotis, merasa bahwa dia gak worth enough atau malah terkadang sebaliknya too worth enough. Dalam kasus si nona sepertinya bingung dengan dirinya (tapi sepertinya gue yg bingung disini) antara dia worth or dia gak worth. Masalahnya begini, suatu ketika dia pernah bilang ke gue “eh karina, jadi cewek jangan kayak gitu donk, lu mau2nya nelpon dia duluan ngajak ketemu, jual mahal dikit kek” (ini dia bilang setelah secara sengaja dia nguping pembicaraan gue, dan didepan temen2 gue) …bertolak belakang banget suatu ketika dia, tanpa sadar bercerita bagaimana dia meng-sms seorang laki-laki, dengan pujian-pujian dan rayuan-rayuan maut, dan bukan dengan pasangannya sendiri melaiankan pasangan orang lain!.
Gue pernah ngobrol dengan salah satu pakar. Dia bilang gini “lo tauk
Mhh, okay lah, she did that for a reason, dan apapun reasonnya,..gue berpikir untuk melihat dari sisi lain, bahwa si nona memang betul-betul tersiksa batinnya. Dia mungkin or bahkan tauk apa yang dia lakuin, hanya saja, dia memilih untuk tetap melakukannya juga for some reason, good or bad, cuman si nona yang tauk.
picture by : http://sambadi.deviantart.com/
September 18, 2008
mengejar kebahagiaan ato mengejar mas-mas...

Mencari kebahagian. Gue rasa mencari kebahagian menjadi sering diungkapkan orang-orang terdekat gue belakangan ini. Mencari kebahagian dengan bekerja, dengan gaji besar, dengan menikah, dengan membeli baju terbaru dari brand ternama, dengan berpacaran dengan sesorang yang kece, dan lain sebagainya.
Gak tauk kenapa tapi sepertinya konsep itu agak salah. Mulai dari konsep bahagia dulu deh. Bahagia kan bukan benda, gak nyata, gak kelihatan, gak bisa diraba, masak mo dikejar kejar sih. Menurut gue konsep mengejar kebahagiaan itu sendiri malah menjerumuskan orang menjadi tidak bahagia dalam hidup mereka. Kenapa ? yah iya, sekarang gini deh konsep kebahagiaan kita misalanya ketika bisa kerja di Exxon Mobil (gue membicarakan diri gue sendiri sebenernya), katanya gajinya gede, kerjanya okay dan bonus bonus lainnya, dan gue (tuh kan emang ini ngomong diri gue sendiri !) akan sangat bahagia bisa bekerja disana.
Lha emang gue gak bahagia apa sekarang ? See, gue punya konsep bahagia yang salah.
The pursuit of happiness is based on an assumption that there is an ideal that we need to match up to before being happy. Ini yang menjerumuskan, karena orang-orang (ada gue didalam kupulan orang-orang itu) menjadi sibuk untuk mengejar “benda” bernama kebahagiaan dan mereka percaya dengan mendapatkannya mereka bakal bahagia.. padahal, sebenernya, kita gak perlu requirement apa-apa untuk bahagia, gak perlu sekolah S3, status menikah or tidak menikah, anything other than the pure intention and choice to be happy.
Pernah baca di blognya Laras bahwa kebahagiaan itu adalah suatu pilihan. Ya, kita memilih mo bahagia apa nggak sama hidup kita. No matter happen to our life, apa kerjaan kita, berapa gaji kita, siap pacar kita, kita bisa tetep bahagia dengan semua hal yang sudah diberikan buat kita,…kalo kita mau., kalo kita memilih untuk bahagia!.
Jadi,….mungkin sekarang pursuit of happiness menjadi tidak tepat buat gue, karena gue bahagia dengan semua hal yang gue miliki, gak perlu lagi kejar-kejaran untuk bahagia, mending mengejar mas-mas tetangga sebelah :P .
Jadi (lagi) Don't worry be happy. This sounds such a simplistic phrase, but there is great power and wisdom in it.
September 13, 2008
Had I known how to save a life..
Now playing: The Fray - How to Save a Lifevia FoxyTunes
Life
What is life? I don’t know. Life is just…life. It starts, and it ends. But what is it like? It’s not like time. Time cannot be stopped. Life can. Yet, it’s like a river. Rivers can be controlled. Life can be controlled. So is life like a river? Nah. It’s not like a river, and it’s not like time… What is life? What is it like? Well, I’d say… Life is whatever you want it to be. Good or bad. No one else can make you change how your life is except you. The question now is… What DO you want it to be? It’s your choice. Make it a good one.
