May 27, 2009

marah

Hai all,

Apa kabar? Semoga baik. Okay, kayaknya kali ini kita kasual saja, gak pake bahasa angkatan 70’ macam kemarin-kemarin. Temen saya tadi siang bertanya, kenapa nggak nulis lagi? Saya jawab “udah dipikirin, masih dikepala” dan karna saya menderita semacam penyakit “suka salah ketik” yang cenderung akut makanya saya rada males menulis. Plus menulis butuh perenungan, dan saat ini saya agak sedikit lelah merenung. Sedang dalam kondisi ingin menggaruk-garuk muka orang soalnya :P hehe..maaf, sedikit emosi :P


Tapi mari kita sedikit berbicara. Mengenai emosi, mengenai perasaan ingin menggaruk-garuk muka orang. Mengenai kondisi dimana muka boss anda tiba-tiba seperti terlihat seperti sandsack buat latihan tinju. Mengenai perasaan dimana pengen lari ketengah lapangan terus teriak-teriak kenceng. Ya merasa marah.


Kenapa sih orang marah? Gak senang, gak puas, gak terpenuhi keinginannya, gak diperlakukan dengan adil. Okay, saya gak akan membahas panjang lebar mengenai hal-hal yg berkontirbusi sama rasa marah. Saya cuman sedang penasaran tentang bagaimana orang-orang mengatasai rasa marah mereka. Saya ingat suatu hari seorang teman marah dengan rekan kerjanya, saking marahnya temen saya itu akhirnya jalan keluar kantor nyebrang ke toko es krim dan akhirnya makan eskrim. Teman yang lain memilih untuk menghabiskan setengah gaji dia satu bulan untuk sebuah sepatu,..karna dia marah. Teman yang satu lagi memilih untuk berasyik masyuk dengan sang pacar untuk mengurangi rasa marah, yang menurut dia berhasil. Dan teman yang lain lagi memilih untuk tinggal dikantor dan menyalurkan energinya pada pekerjaannya.


Saya sedang merasa marah. Marah seperti ingin menggaruk-garuk muka orang. Marah seperti ingin lari ketengah lapangan sambil berteriak kencang. Marah seperti ingin meninju (berhubung boss saya masih baik saya ganti objeknya) sandsack beneran. Tapi sayangnya toko eskrim jauh dari kantor saya. Saya juga agak sayang menghabiskan setengah gaji saya untuk beli sepatu. Saya nggak punya pacar, jadi gak bisa berasyik masyuk. Dan, pekerjaan saya, membuat saya marah.



Saya harus apa?!

May 16, 2009

kecanduan

Aku kecanduan. Batinku

Kali ini bukan pada manusia, tapi pada kabel-kabel internet, akses internet mobile, jaringan internet nirkabel, sampai kepada akses internet  tanpa batas yang kumiliki dirumah.

Aku kecanduan. Sakarang dan entah sampai kapan aku akan kecanduan.

Dulu aku pernah kecanduan dengan seorang manusia. Memilikinya, memeluknya bahkan membayangkannya membuat sensasi yang menurut para junkie disebut sebagai fase “high”. Nyandu. Membuat ku merasa lebih berani. Membuatku merasa lebih kuat. Membuatku merasa cantik. Membuat aku merasa aku. Membuatku merasa ingin lagi dan lagi dan lagi. Dan ketika manusia itu pergi, aku tersungkur lemah, tidak berani, tidak kuat, tidak cantik, walau aku masih merasa aku.

Tapi aku tidak membicarakan manusia. Aku tidak lagi kecanduan manusia. Aku kecanduan dunia maya, dunia maya, tanpa batas dan tak berujung waktu. Seorang sahabat mengatakan kalau dunia itu pelarianku, candu baruku setelah aku kehilangan manusia. Aku akan kehilangan rasa, katanya. Aku akan membatasi hidupku dari kehidupan yang sesungguhnya, katanya. Kamu akan membeku, katanya, lebih tegas. Tapi ini painless, kataku. Ini terasa tak bersyarat, kataku. Dan sahabatku pun akhirnya hanya mendengus pelan. Dengusan yang kuartikan sebagai “baiklah, ingat bahwa aku telah mengigatkanmu untuk keluar”

May 13, 2009

kamu

Kamu, kamu dimana.

Hari ini aku berkendara di ibu kota, ditengah gedung-gedung tinggi. Dihujani ribuan watt cahaya lampu. Aku ingat kamu. Aku ingat kamu berjalan diantara gedung-gedung, bermandikan lampu-lampu di gelap malam Jakarta.

Aku ingat lagu yang menemanimu berjalan. Lagu itu masih diam dengan tenangnya didalam kotak surat digitalku, lagu dari kamu. Kamu, kamu dimana? Aku menyanyi tentang kamu sekarang. Lagu manis yang tidak terdengar manis ketika kunyanyikan, tapi tetap akan kunyanyikan, untuk kamu. Dengan nyanyianku ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia, hatiku.

 

May 8, 2009

pengetuk pintu

Ada yang mengetuk pintuku waktu itu. Tapi aku terlalu malas. Aku malas untuk melihat orang-orang mengetuk pintu dan pergi begitu saja setelah aku membukanya.

Tapi dia mengetuk lagi. Lagi. Dan lagi. Mari kita lihat siapa yang mengetuk, pikirku.

Akhirnya aku dan pengetuk pintu pun bertatap muka. Kami pun bertukar kisah tentang hidup, tentang apa saja yang terlintas di kepala kami, waktu itu, beberapa waktu lalu, dan kemarin.

Merah jambu. Ya abu-abu itu kini menjadi merah jambu. Bersemu.

Langit diatas pun kini mulai temaram. Jingga. Pengetuk pintu perlahan menjauh. Hingga yang kulihat hanya bayangan tubuhnya. Semakin lama, semakin berpendar diaspal hitam. “baiklah” kataku. Aku akan pulang. Kembali ke rumahku. Mengunci rapat kembali pintuku. Berharap suatu hari akan ada yang kembali mengetuk pintu, dan berharap aku tidak malas untuk membukanya kembali.

May 5, 2009

saya

Apa yang salah dengan saya?

Apa karena tinggi saya tidak diatas 160 cm.

Apa yang salah dengan saya?

Apa karena rambut saya yang selalu terlihat berantakan.

Apa yang salah dengan saya?

Apa karena kulit saya tidak putih.

Apa yang salah dengan saya?

Apa karena saya memiliki cara pandang yang berbeda.

Apa yang salah dengan saya?

Apa karena sebagai saya, saya tidak malu menjadi diri saya yang sebenarnya.


Saya mencoba mengerti bagaimana cara kalian berpikir tentang saya, cara kalian memandang saya, cara kalian mengerti saya. Dan saya sampai pada kesimpulan, ternyata saya tidaklah semengerti itu. Saya rasa, saya tidak dapat mengerti, atau mungkin belum (karna saya masih berharap bisa). Jadilah saya memakai jawaban paling masuk akal yang bisa saya terima, bahwa kalian semua sama, yang membedakan hanya wilayah demografis kalian, latar belakang budaya kalian dan semua perintilan di sekitar kalian. Tapi kalian, kalian semua sama. Dan saya, saya tidak sama dengan saya-saya yang lain, dan saya bangga karna saya tidak sama dengan mereka

May 4, 2009

oh yes,..oh NO!

feel like kickin somebody's a**..ugh, but it's looks way too good x)
now i need a (hard) slap along the way to timbuktu

May 2, 2009

a simple sigh turns into the wind

apa yang aku kira badai, semata-mata hanya desir angin saja