Well, life is full of changes.
One day you might be on your top, the other day you’re nothing but a crap.
Who cares, the important stuff doesn’t change anyway J
u met me at a very strange time in my life
Well, life is full of changes.
One day you might be on your top, the other day you’re nothing but a crap.
Who cares, the important stuff doesn’t change anyway J
me: eh, pertanyaan
..
Reza : sure
me: lo percaya nggak, there is something like "our/missing half" or something like that
*lu
reza: :P
kita ngomong statistik yuk
how old are you?
me: hahhahhahahahh
hahhahahah
reza: serius
me: okei, gak mau jawab, or males mikir
reza: just play along dummy
me: btw im 26 in a few more weeks :)
reza: youre 26, okay. Currently there are more than 6 billion people residing in this earth and one third of that...2 billion are male *assuming that you’re other half is a man
me: :)
reza: and 50% of the 2 billion are in their productive age, meaning between 18-45. 1 billion 99% of the 1 billion..does not have sexual disorder
me: i got C on basic statistic :P
reza: 999 million
me: ...
reza: and im again assuming that you'll go for older but not too old man. so it will be somewhere between 24-30 years old, they are 60% of the 999 million, 599.4 million eligible male
me: ...so u said that ....dimana korelasinya dul :P, im not workin today,..jadi otak gue melambat :D
reza: sabar, gua multitask dan 70% dari jumlah itu tinggal di
me: :) boleh gue tulis di blog gue nggak?
Reza: sure
me: thanks :)
Reza: like a bridge over troubled water
me: iya iya
Reza: i will ease your mind
me: iya iya like bridge over troubled water
Seorang teman berbagi cerita dengan saya semalam. Ada satu kalimat yang terucap yang cukup membuat saya tergelitik “konsistensi itu membosankan”, begitu kata teman saya itu. Jujur saja saya agak sedikit bingung sebenarnya. Konsistensi ini dalam hal apa. Sayang percakapan kami berlangsung melalui seluler, jadi agak susah untuk saya menanyakan panjang lebar tentang konsistensi yang dia maksud.
Saya sempat berpikir tentang konsistensi ini setelah kami menyudahi percakapan kami. Saya pribadi bukan orang yang konsisten. Bisa suatu ketika saya berpikiran bahwa kalo nasi goreng ditempat A itu enak, tapi disatu hari yang berbeda saya malah berpikir sebaliknya. Saya nggak konsisten kalau begitu ya?. Bisa suatu kali saya sebal karena adik saya tidak membereskan kamar, tapi dilain hari justru ibu saya yang marah kepada saya karena kamar saya berantakan. saya nggak konsistenkah?. Atau suatu ketika saya secara rutin pergi ke gym, namun 3 minggu kedepan saya sama sekali nggak pernah pergi ke gym. Saya nggak konsisten ya?. Atau ketika menyelesaikan suatu pekerjaan, kadang saya pake cara a, atau b, atau c, mana-mana aja yang pas sama mood saya waktu kerja. Itu pun berarti saya nggak konsisten ya? L
Kalau konsistensi yang dimaksud teman saya ini adalah rutinitas. Jelas, saya bukan orang yang konsisten. Namun kalau konsisten menyangkut jati diri saya, karakter kepribadian saya, saya sebagai pribadi, mungkin saya bisa bilang untuk yang satu itu saya cenderung konsisten. Saya konsisten dalam berpikir, maksud saya cara berpikir yang melompat-lompat, saya konsisten untuk yang satu ini, hehehe (ini nggak bagus sebenernya L). Saya juga konsisten dalam kamampuan saya kompromi dengan orang lain, walaupun kadang ini jatuhnya saya terlihat pasrah atau loser, saya konsisten melakukannya (kok kayaknya nggak bagus juga ya L). Saya juga konsisten dalam menyelesaikan apa yang sudah saya buat, walaupun dalam perjalanan menyelesaikannya itu ada masa dimana saya pause untuk sementara waktu, dan akhirnya kembali menyelesaikan yg sedang saya kerjakan.
Jadi konsisten itu masih membosankan? Buat saya, walaupun cara berpikir saya lompat-lompat, atau saya bisa kompromi sama orang lain, atau kerjaan suka dipending tapi akhirnya kelar, sepertinya belum menjadi hal yang membosankan buat saya, saya masih nyaman dengan cara seperti itu. Dan beberapa teman dekat mungkin melihat saya sebagai pribadi yang seperti itu. Sukur mereka tidak menganggap saya membosankan karna hal-hal tersebut diatas J. Kalau soal rutinitas, hehehe, ya saya memang tidak konsisten. Dalam beberapa hal saya nggak suka rutinitas, rasa-rasanya kok rutin dan melulu itu-itu terus kok membosankan ya buat saya..tapi yah mungkin itu saya. Kalau kalian bagaimana?!
Nb: oh iya, saya juga suka nggak konsisten kalau nulis, kadang pake inggris pas-pasan, kadang Indonesia ala angkatan 80’an, kadang malah bukannya nulis tapi masukin foto-foto nggak jelas..heheheh
Okei, let’s forget about the crap for a while. Let’s talk about something I like, really like, photography. Btw, I’m just amateur here, so u won’t find some review or professional tips hereJ. Okei, I like the police, kinda old school I guess, but I like them ever since I heard “every little things she does is magic” when I was in 5th grade. So, maybe its lil bit too late, but I found out that their guitarist (Andy Summers) did a photo shoots during their journey. Very interesting, most of the photos were a spontaneous photography and what makes it a lot more interesting its black and white photosJ. Review mention that this book, somewhere between photojournalism and an illustrated diary, follows The Police around the globe between 1980 and 1983. From the American West to Australia to Japan, Summers recorded not only the band members rehearsing and partying the proverbial sex, drugs, and rock and roll he also photographed fans, landscapes, still lifes, and passersby in a reportage style reminiscent of Henri Cartier-Bresson and Robert Frank. Anyway..just skip the review and check this marvelous photographs
Actually there’s a lot more, but too bad I can’t find it on the net L ..Now I’m wondering how I can get this book.
Currently listening to Roxanne
All photographs courtesy to Andy Summer
15 menit. 20 menit. 30 menit
Saya masih diam berpangku tangan. Menatap monitor cembung 15 inci yang sudutnya sudah mulai mengontras. Jejeran jendela-jendela didalamnya tetap membuat saya tidak bergeming. Disudut kanan muncul jendela kecil. Berkedip-kedip bertanya “belum pulang?”. Saya diam. Memandang kata-kata itu. Tetap diam. Tetap terpaku.
Kopi yang saya buat 30 menit lalu sudah tidak mengeluarkan uap panas. Dan entah kenapa wanginya berbeda malam ini. Dan entah kenapa lidah saya terasa begitu getir sampai-sampai tidak kesampaian juga menyentuh bibir gelas kopi saya. Saya kembali menatap monitor. Menatap gelas kopi. Menatap kembali ke monitor. Dan kembali menatap gelas kopi saya, sedikit getir.
Entah apa yang saya pikirkan malam ini. Tugas-tugas. Dia. Teman. Adik. Tugas-tugas. Dia. Dia. Dia. Dia. Ah sepertinya sudah terlalu banyak Dia. Saya agak lelah memikirkan Dia. Saya agak lelah menyimpan. Saya agak lelah menahan. Saya agak lelah memendam. Saya lelah hari ini. Mari kita pulang saja, sudah malam, ajak versi lain dari diri saya. Mari, timpal saya.