9.2.16

2016


Wow! Sudah 2016. Janji-janji batin untuk menulis di tahun lalu sirna begitu saja. Sepertinya dikarenakan tidak terlalu banyak yang bisa ditulis, atau terlalu banyak sampai bingung sendiri. Atau mungkin kemalasan yang menunda. 2015 banyak sekali memang hal yang terjadi. Saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan dalam bentuk paruh waktu. Memulai usaha kecil bersama teman & teman. Menjadi manajer senang-senang untuk band ukulele yang jenaka. Dan menikah. Yep, membina hubungan di level yang menurut saya ajaib.

Semuanya terasa baru, dan menyenangkan. Keputusan untuk mengambil pekerjaan paruh waktu sebenarnya didasari kelelahan menempuh perjalanan dari pinggiran kota ke ibu kota. Waktu terbuang percuma dan produktifitas saya cenderung rendah. Setelah berjalan hampir setengah tahun terkadang saya memang rindu kubikal dan ramenya suasana makan siang kantoran. Tapi ketika mengingat “rame”nya di jalanan dan drama urusan kantor, saya bersyukur memilih pekerjaan ini. Awalnya tidak mudah, saya yang terbiasa bekerja rutin baik jam maupun timeline bekerja mau nggak mau harus membiasakan diri. Bisa bangun siang, tapi kerjaan menumpuk. Yah, hal-hal semacam itu masih harus belajar banyak.

Dan dipenghujung 2015 kemarin, saya dan E pun menikah. Tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan bagaimana kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Tidak ada acara romantis “bend on his knees” dan teriakan histeris “i do”. Ketika saya dan E memutuskan untuk menikah, kami berdua sadar bahwa kami harus “conscious” saat melakukannya. Tidak mendramatisir keadaan dengan menambahkan romantisme-romantisme sendu dan sejenisnya. Bukan berarti tidak indah. Indah, tapi mungkin dalam level yang tidak umum. Setelah beberapa bulan hidup di bawah satu atap kami sadar bahwa kami berdua ajaib. Dan pernikahan adalah salah satu hal yang ajaib. Tidak ada janji-janji atau komitmen yang muluk-muluk layaknya pengantin baru. Kami berdua sadar, bahwa perjalanan luar biasa menanti kami di masa depan. Banyak sekali rencana dan mimpi-mimpi, baik secara individu maupun kolektif yang ingin kami capai, dan tidak banyak yang bisa diucapkan selain “one step at a time”. Ini kemudian menjadi filosofi baru di rumah kami. Kami memutuskan untuk mencerna, menikmati pelan-pelan, kehidupan baru kami berdua. Tidak ada yang perlu diburu-buru. Kami punya seluruh waktu bersama untuk mewujudkan mimpi dan menikmati keajaiban yg kami pilih.

Well, semoga tahun ini kami berdua bisa merasakan lebih banyak keajaiban lagi, dan kalianpun demikian.