25.9.08

introduction to Ms. Blame it all to world







Mari saya perkenalkan dengan Ms. Blame it all to world


Dia memang sudah tidak muda lagi, walupun tidak muda dia masih dipanggil nona. Dan even usianya dikategorikan dewasa, tapi secara mental dan jalan pikirannya bisa dibilang kategori kekanak-kanakan. Lucunya setiap tidak diberikan tanggung jawab sang nona sering marah, tapi kan aku pantas nerimanya, aku lebih senior!, begitu katanya. dan yang lebih lucunya (mungkin aneh) setiap diberi tanggung jawab, si nona juga sering berkata "yah gimana, kerjaanku kan banyak, kamu gak tauk apa ...bla..bla..bla", dan akhir pecakapan (or percekcokan) selalu diakhiri dengan gue menarik nafas panjang dan mencoba berbesar hati. Tidak hanya itu, gue selalu tertegun melihat bagaimana dia bergulat dengan opini orang lain, atau tepatnya cara dia untuk mengelak dari entah itu tanggung jawab ataupun omongan yang pernah dia omongin. Pernah suatu ketika si nona dateng ke gue, marah-marah, dia bilang “karina! Dokumen yang itu mana, yang skt yang biru mapnya tebel banget, yang aku kasih ke kamu waktu itu!” dengan polosnya gue bilang”lo gak pernah kasih itu ke gue” . “gak mungkin pasti kamu ambil!”,..what in the hell, asal tauk aja, itu dokumen itu gak punya kontribusi apa-apa sama kerjaan gue, gak seharusnya pun gue pegang, dan even gue colong pun dokumen itu gak bias gue rupiahin. Dan dia pun ngeloyor pergi.

Gue ngedumel sama kelakuan dia!? Iya! Gue jengkel, bukan apa-apa, perdebatan ini gak cuman gue doank yang ngalamin, hamper seluruh karyawan bermasalah dengan dia, mulai yang ringan sampe berat. Yang bikin jengkel adalah bagaimana orang lain kecuali gue mneyikapi hal ini. Begini rangkuman analisa mereka (yang diberkan oleh si nona):


1. maklum dia berusia namun belum berpasangan

2. dia pernah punya trauma dengan pasangannya

3. adik-adiknya lebih sukses dari dia

4. orang lain seangkatan dia lebih sukses dari dia

5. dia „bawaan“ dewan direksi

6. dewan direksi temen maen golf kakaknya

7. dia lebih senior

8. dia di guna-guna

9. dia emang aneh

10. dia punya penyakit jantung

11. ..dan setiap kalimat diatas selalau diakhir dengan kalimat “...jadi harap maklum“


Gue inget salah satu mata kuliah, psiikologi kepribadian, di dalam kuliah itu pernah dijelaskan tentang bagai mana manusia itu dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan dalam hidup mereka, dari yang paling dasar kayak makan, sampe yang ribet kayak keuasaan dan sebagainya. Ketika kebutuhan itu tidak dipenuhi manusia terkadang “bertingkah” mulai yang ukurannya normal seperti berdefence mechanism, hingga yang ekstrim atau akut seperti neurotic. Okay, gue gak bakal jelasin satu-satu teori itu, berhubung nilai gue juga gak bagus2 amat. Tapi begini sih cara mudahnya (atau bisa disebut cara-suka-suka gue mengartikan teori) ketika salah satu kebutuhan manusia tidak dipenuhi manusia jadi neurotis, merasa bahwa dia gak worth enough atau malah terkadang sebaliknya too worth enough. Dalam kasus si nona sepertinya bingung dengan dirinya (tapi sepertinya gue yg bingung disini) antara dia worth or dia gak worth. Masalahnya begini, suatu ketika dia pernah bilang ke gue “eh karina, jadi cewek jangan kayak gitu donk, lu mau2nya nelpon dia duluan ngajak ketemu, jual mahal dikit kek” (ini dia bilang setelah secara sengaja dia nguping pembicaraan gue, dan didepan temen2 gue) …bertolak belakang banget suatu ketika dia, tanpa sadar bercerita bagaimana dia meng-sms seorang laki-laki, dengan pujian-pujian dan rayuan-rayuan maut, dan bukan dengan pasangannya sendiri melaiankan pasangan orang lain!.

Gue pernah ngobrol dengan salah satu pakar. Dia bilang gini “lo tauk kan karina, perempuan, berumur, belum merit, gak punya pacar, karir stuck, ..apa yang lo harapin”. Duh! Itu mah gue juga tauk, dari jaman sma, kalo ada guru cewek yang gak merit, pasti lebih galak dari guru manapun yang merit. Tapi gue jengkel selalu memaklumi dan memilih untuk mengalah, I have pride too (cieeee ceritanya maarah ni). Bukan apa-apa, saya mengenal beberapa orang perempuan yang memiliki kondisi yang sama, namun mereka tetap bertumbuh menjadi manusia dewasa. Sementara si nona, memilih untuk menyalahkan dunia atas perilakunya. Dunia tidak adil, manusia tidak adil, lingkungan tidak adil, tapi pernahkah dia melihat ..apa dia pernah berpikir, dia sudah melakukan hal yang adil or atleast baik!


Mhh, okay lah, she did that for a reason, dan apapun reasonnya,..gue berpikir untuk melihat dari sisi lain, bahwa si nona memang betul-betul tersiksa batinnya. Dia mungkin or bahkan tauk apa yang dia lakuin, hanya saja, dia memilih untuk tetap melakukannya juga for some reason, good or bad, cuman si nona yang tauk.


picture by : http://sambadi.deviantart.com/

No comments: